Dalam sejarah umat Islam tercatat bahwa termasuk orang-orang yang pertama kali masuk Islam adalah para pemuda. Kita sebut saja ‘Ali ibn Abi Thalib, Sa’d ibn Abi Waqash, Arqam ibn al Arqam, dan banyak yang lainnya radiyallahu ‘anhum ajma’in.
Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memiliki perhatian lebih terhadap kaum muda, sehingga beliau mendakwahi mereka dan mengajak mereka untuk memeluk Islam.
‘Amr ibn Qais al Mula’i rahimahullah berkata, “Sesungguhnya seorang pemuda itu bergantung pada sesuatu yang mana dengannya ia tumbuh sebagai pemuda.”
Oleh karena itu lah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendidik dan membimbing kaum muda dengan sungguh-sungguh kala itu, sehingga mereka menjadi pemuda-pemuda yang tumbuh gagah berani, pandangannya luas, ilmunya bagai lautan tanpa batas. Mereka memiliki peran dalam membangun kejayaan Islam. Begitulah para pemuda. Ketika mereka tumbuh dengan ajaran Islam yang benar, maka mereka akan tumbuh menjadi tiang-tiang agama yang kokoh, yang akan menjaga kemuliaan Islam, yang akan mengorbankan segala sesuatu demi tegaknya agama yang mulia ini.
Namun sungguh sangat menyedihkan ketika kita melihat pemuda-pemuda Islam di zaman sekarang ini. Mereka bagai daun-daun muda yang terlepas dari batang pohon lalu mengikuti angin kemana pun ia bertiup.
Kita melihat banyak diantara para pemuda di zaman sekarang ini, khususnya di Indonesia, mereka bergelimang dengan kehidupan dunia, mereka asyik dengan tren-tren barat yang dianggap modern, mereka sibuk mengikuti perkembangan media dan elektronik, di pikiran mereka hanya ada kalimat, “mumpung masih muda, kita senang-senang dan kita nikmati hidup.” Mereka tidak mengerti bahwa kematian bisa datang kapan saja merenggut nyawa mereka, sedangkan mereka dalam keadaan lalai, tidak menyadari sama sekali.
Al Imam Asy Syafi'i rahimahullah dalam sya'irnya mengatakan,
"Betapa banyak anak muda yang diharapkan panjang usianya, namun tiba-tiba ia sudah berada di kuburnya. Dan betapa banyak anak muda yang tertawa bahagia di pagi hari, sedangkan ia tidak menyadari bahwa di sore hari kain kafannya sedang disiapkan."
Kita memiliki peran penting untuk menyadarkan pemuda-pemuda Islam, supaya mereka mengenal agama mereka sendiri, dan mempelajarinya dengan serius. Kita tentu mengenal Muhammad al Fatih seorang panglima muda yang mampu menaklukan Konstatinopel, Ibu kota Kristen/Romawi Timur yang merupakan kota paling kuat di masa itu. Namun di usianya yang masih muda, yaitu 24 tahun, dia mampu menaklukannya. Dan keberhasilan beliau ini tidak terlepas dari peran sang ayah yang dengan sungguh-sungguh mendidiknya sejak kecil, sehingga ketika besar, ia menjadi pemuda yang gagah, yang sholih, yang hafal Al Qur’an, dan memahami berbagai disiplin ilmu agama, ilmu siasah atau perang dan ilmu kenegaraan, serta memahami berbagai bahasa.
Ayahnya Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah menjadikan bagi Muhammad al Fatih 2 orang guru besar yaitu, Al Syamsuddin dan Muhammad ibn Isma’il al Qur’ani. Keduanya membimbing dan mendidik Muhammad al Fatih sesuai dengan ajaran Islam yang benar, sehingga di usianya yang masih 14 Tahun, Muhammad al Fatih tumbuh menjadi pemuda yang ta’at. Dan kemudian dia diangkat menjadi Raja atau Sultan menggantikan posisi ayahnya. Dan kala itu, Muhammad al faith baru berusia 22 tahun.
Dan ingatkah kita kepada Usamah ibn Zaid ibn al Haritsah yang diangkat langsung oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai panglima perang untuk melawan orang-orang kafir. Dan kala itu, usianya adalah 18 tahun. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memilihnya tentu bukan dengan sembarangan, melainkan Rasulullah mengetahui nilai keimanan dan ketakwaan yang ada di dalam diri Usamah ibn Zaid ibn al Haritsah. Namun kemudian Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam meninggal sebelum Usamah berangkat memimpin peperangan.
Lalu diangkatlah Abu Bakar ash Shiddiq sebagai Khalifah pengganti Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian orang-orang mendatangi Umar ibn al Khattab agar dia berbicara mengenai kepemimpinan Usamah dalam perang, mengingat usianya yang masih muda. Umar berkata, “wahai Abu Bakar, tidakkah engkau mengganti posisi Usamah dengan orang lain yang lebih berumur?” lalu Abu Bakar menjawab dengan tegas, “celakalah engkau wahai Umar! Apakah aku akan merubah keputusan Rasulullah setelah sepeninggalnya? Sekali-kali tidak! Usamah tetap memimpin peperangan.”
Dan ahirnya Abu bakar sendirilah yang mengantar pasukan perang kaum muslimin yang di pimpin oleh Usamah ibn Zaid ibn al Haritsah sampai ke perbatasan kota. Abu Bakar memegang tali kekang kuda Usamah dengan berjalan kaki. Usamah yang melihat hal itu, menangis terharu seraya berkata, “wahai Khalifah Rasulillah, tidakkah engkau yang mengendarai kuda ini dan biarkan aku yang berjalan kaki?” lalu dengan lembut Abu Bakar menjawab, “sesungguhnya aku senang jika debu-debu menempel di kakiku di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”
Begitulah
seharusnya hubungan antara kita yang sudah sepuh atau kita yang sudah berlanjut
usia dengan generasi-generasi muda kita. Pantaslah jika Rasulullah Sallallahu
‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوْقِرْ كَبِيْرَنَا
“Bukan termasuk bagian dari umatku, orang tua
yang tidak menyayangi orang yang lebih muda, dan orang muda yang tidak
menghormati orang yang lebih tua.” (HR. Tirmidzi, dengan derajat shahih menurut
Al Albani)
Dan merupakan bentuk rasa sayang kepada generasi muda adalah dengan membimbing mereka dan mendidik mereka supaya dekat dengan Allah, mengenali Nabinya, dan mencintai agamanya. Dan merupakan bentuk penghormatan kepada yang lebih tua adalah dengan bermulazamah kepada mereka dalam disiplin ilmu, belajar keteladanan, dan mengikuti mereka dalam kebenaran.
Maka kita hendaknya mengambil pelajaran bahwa marilah kita mulai dari sekarang menaruh perhatian lebih terhadap generasi muda umat Islam, akan tumbuh menjadi apa dan menjadi siapa mereka?
Dan juga kalian wahai para pemuda, hendaklah kalian sadar, bahwa kalian memiliki peran penting dalam menjayakan dan memuliakan agama kalian. Tidakkah kalian mengambil pelajaran dari kisah Ashabul Kahfi yang dikisahkan secara langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam Al Qur’an.
اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
“Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu berlindung di dalam gua (demi menyelamatkan iman di dalam hati mereka), lalu mereka berdo’a, ‘Ya Rabb kami, berikanlah kasihsayang kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah petunjuk bagi kami dalam urusan kami.” (QS. Al Kahfi : 10)
Kemudian Allah mengijabah permohonan mereka seraya berfirman menggambarkan kepribadian mereka,
اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Allah, dan Kami tambahkan petunjuk bagi mereka.” (Al Kahfi : 13)
Sungguh indahlah pemuda-pemuda yang berjiwa hanif, lurus dalam beragama, keimanannya bagai mentari fajar yang terbit, mencerahkan dunia, keberanian mereka bagai bulan purnama yang menyisir kegelapan malam, kisah-kisah sejati mereka bertaburan di langit bagai bintang yang berkelip sepanjang zaman.
Muhammad al Fatih ibn Murad, Usamah ibn Zaid ibn al Haritsah, dan Ashabul Kahfi. Cukuplah mereka menjadi teladan terbaik bagi generasi muda umat Islam saat ini.
Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar