Jumat, 29 Januari 2021

Sajak Ilmu

 


Ilmu;

Adalah teman dikala safar

Adalah kekasih dikala sepi

Adalah penyelamat dikala berbicara

Adalah pengindah dikala bertingkah

Belajarlah! Carilah ilmu!

Sungguh, tiada seorang pun yang terlahir dalam keadaan berilmu

Dan tidaklah orang yang berilmu itu sama halnya dengan orang yang bodoh

 

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

“Katakanlah! ‘apakah sama halnya antara orang yang memiliki ilmu dengan orang yang tidak memiliki ilmu?’. Sesungguhnya hanyalah orang berakal yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Az Zumar : 9)

 

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah : 11)

 

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.

Hayya 'Alal Falaah!

 


Sukses itu penting, tapi bersyukur itu jauh lebih sukses. Maka bersyukurlah atas segala capaian, dan berterimakasihlah kepada diri sendiri. Meski hasil tak seperti yang diharapkan, namun setidaknya sudah ada usaha yang ditempuh. Menghargai diri sendiri adalah bagian daripada rasa syukur kepadaNya. Dan ingatlah, bahwa usaha baik itu tidak akan pernah sia-sia. Pasti, ia akan menemukan jalan mulianya.

Jangan pernah merasa lemah ketika kita gagal dalam/setelah berusaha, tapi hendaklah kita mengambil pelajaran dan hikmah; bahwa dari situlah kita bisa mengetahui seberapa tangguhkah diri kita sebenarnya; segera bangkit atau tetap terpuruk?!

Kegagalan bukanlah hambatan, tapi dia merupakan sebuah peluang agar kita bisa lebih kreatif lagi dalam menemukan cara untuk mencapai tujuan (sukses).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan kepada kita,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah untuk memperoleh sesuatu yang bermanfa’at untukmu, dan minta pertolonganlah kepada Allah dan janganlah bersikap lemah.” (HR Muslim)

Dan Allah subhanahu wata’ala pun memotivasi kita, agar kita bisa lebih memahami suatu keadaan/kondisi,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu adalah baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu adalah buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqoroh : 216)

Bukan kegagalan yang harus kita persoalkan, tapi diri kita. Bagaimana kita menyikapinya.

Kegagalan ibarat kopi pahit yang membuat melek mata kita di tengah malam, kita akan selalu bangkit dan tidak akan tertidur.

Kegagalan bukanlah suatu kekalahan, tapi kita akan menjadi orang yang kalah ketika kegagalan itu membuat kita berhenti dari berusaha.

Tetap berusaha, tapi coba dengan cara yang berbeda, karena kerapkali kegagalan itu menyusup pada cara-cara kita yang sama.

Tutuplah telinga jika kita mendengar suara-suara yang melemahkan semangat.

Cukuplah suara hati kita yang mendorong kita untuk tampil maju, lebih maju lagi, dan lebih maju lagi, karena motivasi yang terbaik adalah yang dibangun dari keyakinan hati. It’s IMAN. So, “Majuuuuu!” Hayya ‘alal falaah!

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.

Jomblo Super

 


Menikah tidak memiliki batasan kapan waktunya, tidak mengharuskan usia tertentu, tetapi menyegerakannya merupakan keutamaan yang tidak boleh disepelekan dan diabaikan, apalagi jika kita hidup di zaman yang penuh fitnah ini, dimana ikhtilat kehidupan campur-baur antara lawan jenis sudah tidak ada lagi batasan dan tidak bisa lagi dihindari kecuali oleh orang-orang yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala yang diberi ilmu dan taufiq sehingga bisa menjaga diri dan menjaga jarak dari lawan jenis yang bukan mahram. Firman Rabb selalu terngiang syahdu dalam benaknya,

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."  (QS. Al Isra’ : 32)

Segala sebab dan jalan yang bisa mendekatkannya kepada zina, ia jauhi, ia hindari. Boleh jadi memang saat ini masih jomblo, belum ada tangan untuk digenggam, belum ada bahu untuk bersandar, tapi selalu ingat bahwa masih ada lantai untuk bersujud di hadapNya. Sibuk mendekatkan diri kepadaNya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

"Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, pada hari dimana tidak ada naungan selain naunganNya. Yaitu; Seorang imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berjumpa karenaNya dan juga berpisah karenaNya, seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan lagi cantik untuk berbuat mesum lalu ia menolak seraya berkata, 'Aku takut kepada Allah.' Dan seorang yang bersedekah dengan diam-diam, sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya. Dan yang terakhir adalah seorang yang menetes air matanya saat berzikir, mengingat dan menyebut nama Allah dalam kesunyian." (HR. Muslim)

Jomblo bukanlah aib bagi seorang muslim, tapi justru menjadi kesempatan untuk terus memperbaiki diri sebelum tiba masanya berumahtangga. Ia sadar, bahwa dirinya sendiri merupakan pondasi untuk rumahtangganya kelak, sehingga ia harus kuat dan kokoh, memiliki iman setebal baja. Karena berumahtangga bukanlah sekedar melepas status lajang, kemudian berpindah menjadi status nikah. Disana ada tanggung jawab yang besar, yaitu membangun umat. Maka sebelum hal itu terwujud, sudah barangtentu sang nahkoda harus memiliki persiapan yang matang, terutama dalam 3 segi; materi, ilmu dan keta'atan. 3 hal ini menjadi pilar penting bagi seorang nahkoda, bagi seorang kepala rumahtangga. Dengan materi, ia bisa menafkahi, dengan ilmu, ia bisa mendidik, dan dengan keta'atan, ia bisa menjadi imam.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Lelaki adalah qawwam (pemimpin) bagi wanita, oleh karena Allah telah melebihkannya diatas istrinya, dan oleh karena ia telah menafkahkan hartanya.” (QS. An Nisa : 34)

Aqad nikah merupakan janji kuat yang diikrarkan seorang lelaki di hadapan RabbNya yang disebut mitsaqun ghalizh, yang artinya bahwa berumahtangga harus menjadi ibadah sepanjang waktu; susah-senang, duka-bahagia, derita-ceria, ia harus tetap setia pada janjinya kepada Allah, dengan menghalalkan seorang wanita, maka ia harus siap dengan segala konsekwensi ke depannya. Yaitu memenuhi kewajibannya sebagi kepala rumahtangga dan menunaikan hak-hak istri dan juga anak-keturunan darinya.

وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“Dan mereka (istri-istri) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) darimu.” (QS. An Nisa : 21)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لم ير للمتحابين مثل النكاح

"Tidak ada solusi bagi dua orang yang saling mencintai, melainkan keduanya harus menikah." (HR. Ibnu Majah, dengan derajat shahih menurut Al Albani)

Jika sudah ada wanita yang cocok dengan hati, dan ia pun cocok dengan anda, maka menunggu apalagi. Halalkan dan sahkan. Ajak ia beribadah, membangun cinta dalam mahligai rumahtangga. Itulah seindah-indah cinta. Jomblo super, ya menghalalkan, bukan menggantungkan. Itu! #Joss

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.

Jomblo Mahal

 


Materi sering menjadi kendala utama bagi seorang jomblo saat hendak melangkah ke pelaminan. Tapi ingatlah selalu bahwa agama tidak pernah mempersulit dalam masalah itu. Menikah hanya butuh sepasang mempelai laki-laki dan wanita, 2 saksi, wali dari wanita dan mahar. Ya hanya itu saja, sesederhana itu.

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ

“Siapa saja wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil.” (HR. Tirmidzi, dengan derajat shahih menurut Al Albani))

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ

“Tidak ada pernikahan kecuali dengan dihadiri wali dan 2 saksi yang adil.” (HR. Baihaqi, dengan derajat shahih menurut Al albani)

Adapun walimah, maka ala kadarnya saja sebatas kemampuan yang ada. Tidak perlu berpikir panjang dan pusing memikirkan biaya lebih, ingin tampil wah dan mewah. Seorang sahabat bernama ‘Abdurrahman ibn ‘Auf radiyallahu ‘anhu menikah dengan seorang wanita dengan mahar emas sebesar dan seberat biji kurma, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

“Adakanlah walimah walau hanya dengan seekor kambing.” (HR. Bukhari)

Mahar pun beragam, boleh berupa hafalan dari Al-Qur'an, atau sesuatu yang murah meriah dan mudah. Itu tidak masalah, yang penting sang wanita ridho dan rela. Dan itulah sebaik-baik wanita yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala.

أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَئُونَةً

“Wanita yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan maharnya.” (HR. Ahmad, dengan derajat dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth)

Seorang sahabat pernah meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya dinikahkan dengan seorang wanita, kemudian beliau bersabda,

“Pergilah, cari mahar walau hanya sebuah cincin dari besi.”

Ia pun pergi, kemudian kembali dengan tidak membawa apa-apa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya,

“Apakah ada sesuatu yang kamu hafal dari Al-Qur’an?”

“Ya,” jawabnya.

Ahirnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,

اذْهَبْ فَقَدْ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ

“Pergilah, sungguh aku telah menikahkanmu dengannya, dengan hafalan Al Qur’anmu sebagai maharnya.” (HR. Bukhari)

Dan ingat, bahwa penting juga memilih mertua yang mengerti dan paham agama. Karena insyaallah jika calon mertua bagus agamanya, maka tak ada kesulitan untuk menghalalkan anak wanitanya. Tapi sadar diri juga, bahwa anda harus memiliki kekayaan diri berupa pribadi religius dan berakhlak. Maka majulah, jangan takut dan minder. Walau tak ada emas di genggam tangan, tapi ada iman di lubuk hati yang paling dalam. Dan Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan pernah mengecewakan hambaNya yang beriman dan bertakwa.

إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Yusuf : 90)

Lihatlah bagaimana utusanNya memberikan rekemondasi siapa lelaki yang pantas dijadikan menantu, maka jadilah seperti ini,

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِينَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

"Jika datang kepadamu (wahai orangtua wanita) seorang lelaki yang kamu sukai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah ia (dengan puterimu). Jika tidak, maka akan timbul fitnah di muka bumi dan akan timbul  kerusakan yang besar." (HR. Ibnu Majah, dengan derajat hasan menurut Al Albani)

Masyaallah... begitu agungnya pribadi seorang lelaki yang memiliki agama dan akhlak, sampai-sampai ada kewaspadaan timbulnya fitnah dan kerusakan jika kehadirannya ditolak untuk menjadi menantu.

Maka persiapkanlah diri menjadi pribadi nun agung tersebut. Sehingga boleh jadi, tak perlu kau bersusah-payah mencari, justru akan datang dengan sendirinya bidadari yang selama ini kau rindui. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, memudahkan urusan hamba-hambaNya yang bertakwa.

Dikisahkan, bahwa pernah ada seorang lelaki datang ke rumah wanita yang ingin dinikahinya. Disana, ia berjumpa dengan bapak wanita tersebut. Lama berbincang mengenai ini dan itu, sampai ahirnya terdengar suara kumandang adzan, “Allaahu akbar! Allaahu akbar!”

Si bapak bergumam di dalam hatinya, “disinilah keputusan untukmu wahai anak muda, bagaimanakah responmu terhadap panggilan Tuhanmu? Jika engkau setia terhadap Tuhanmu, tentu engkau akan setia pula terhadap wanita yang kau halalkan dengan kalimatNya.”

Subhanallah.. ternyata lelaki tersebut benar-benar seorang lelaki shalih. Ia beranjak dari tempat duduknya seraya berkata, “maaf pak, sudah adzan, sebaiknya kita berjama’ah dulu di Masjid.” Mendengar itu, tak terasa bulir-bulir air mata berjatuhan di pipi si bapak, ia terharu dan teringat dengan sabda manusia terbaik yang menjadi teladannya shallallahu ‘alaihi wa sallam, "jika datang kepadamu (wahai orangtua wanita) seorang lelaki yang kamu sukai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah ia (dengan puterimu). Jika tidak, maka akan timbul fitnah dan kerusakan yang besar." (HR. Ibnu Majah, dengan derajat hasan menurut Al Albani)

Ahirnya si bapak menikahkan puterinya dengan lelaki shalih tersebut. Maka sungguh beruntung dan suatu kemuliaan bagi siapa saja lelaki yang ketika melamar, ia diterima bukan karena rupanya, bukan pula hartanya dan bukan pula jabatannya, tetapi ia diterima karena agamanya.

ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ : وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

“3 golongan yang pasti ditolong oleh Allah; diantaranya adalah seseorang yang menikah karena ingin menjaga kehormatannya.”  (HR.  Tirmidzi, dengan derajat hasan menurut Al Albani)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah jadikan baginya jalan keluar (untuk setiap urusan), dan memberinya rizki dari arah yang tidak diduga-duga, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya." (QS. Ath Thalaq : 2-3)

Masyaallah.. Masyaallah.. Allahu akbar! Diberi kemudahan, diberi rizki dan dicukupi. Mau?! Maka bertakwalah! jadi pribadi yang beragama kuat dan berakhlak mulia. Kamu. Ya, kamu. Bismillah. Jomblo Mahal. #Joss

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.