Senin, 08 Februari 2021

Pelaku Dosa Disiksa Dengan Dosa Berikutnya

 


Orang yang berbuat dosa, seringkali disiksa dengan perbuatan dosa berikutnya.

Ia dibuat ketagihan dan berselancar menjajal dosa demi dosa.

Aduhai, sekiranya ia tahu betapa nikmatnya bertaubat.

Tapi ia justru memilih untuk terus disiksa dengan perbuatan dosanya sendiri.

Perbuatan dosa yang terus menerus, dari satu dosa berpindah ke dosa lainnya adalah siksa yang tidak disadari.

Semakin sering seseorang berbuat dosa, maka hatinya akan semakin hancur. Gelap. Jauh dari cahaya hidayah.

كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! bahkan apa yang mereka kerjakan itu (perbuatan dosa) telah menutupi (menggelapkan) hati mereka.” (QS. Al Muthaffifin : 14)

Setelah itu, ia tidak akan lagi mengenal indahnya kebaikan dan ibadah.

Justru kemaksiatan dan perbuatan dosanya itulah yang terasa indah.

فَلَوْلا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menghiaskan kepada mereka keindahan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al An’am : 43) 

Maka segeralah bertaubat kepada Allah dan kembali ke jalan yang benar, supaya hati kembali bersih dan mudah mendapat cahaya hidayah dan taufiqNya.

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

"Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan (perbuatan dosa), maka ditimpakkan di dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertobat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali (berbuat dosa), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya.” (HR. Tirmidzi, dengan derajat hasan menurut Al Albani)

Sebelum terlambat, hati menghitam. Kembalilah kepada Allah dengan taubat dan istighfar yang banyak.

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.

Jadilah Pribadi Yang Lembut

 


Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi (keistimewaan) pada sifat lembut yang mana itu tidak diberikan pada sifat kasar, dan tidak pula diberikan pada sifat selainnya.” (HR. Muslim)

مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْ الْخَيْرِ وَمَنْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنْ الرِّفْقِ فَقَدْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنْ الْخَيْرِ

“Barangsiapa yang diberi bagian dari bagian kelemahlembutan, maka sungguh ia telah diberi bagian dari kebaikan. Dan barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkan bagian dari kelemahlembutan, maka sungguh ia telah diharamkan untuk mendapatkan kebaikan.” (HR. Trimidzi, dengan derajat shahih menurut Al Albani)

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Para penyayang akan disayangi oleh Allah Ar Rahman. Sayangilah penduduk bumi maka kalian akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit.".” (HR. Abu Daud, dengan derajat shahih menurut Al Albani)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Karena rahmat dari Allah lah kamu dapat berlemah lembut kepada mereka. Kalau sekiranya kamu bersikap kasar dan keras hati, maka sungguh mereka akan berlari meninggalkanmu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka dan bermusyawarahlah dalam setiap urusan. Dan apabila kamu sudah ber’azam, maka bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.” (QS. Ali Imron : 159)

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.

Rabu, 03 Februari 2021

Wahai Wanita Tutuplah Auratmu!

 


Wanita yang menutup aurat dengan sempurna secara syar'i, mungkin tidak banyak lelaki yang meminati. Karena dianggap ketinggalan zaman dan kuno. Tapi sungguh itu lebih baik dan lebih mulia di sisiNya, daripada wanita yang sengaja membuka auratnya hanya untuk mendapat perhatian atau sanjungan para lelaki. Maka sungguh, itu sangat buruk, sama halnya mengobral dan memurahkan harga diri.

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya;

1. Sekelompok kaum yang memegang cemeti (cambuk) seperti ekor sapi, kemudian dengan cemeti tersebut mereka memukuli sekelompok manusia.

2. Sekelompok wanita yang berpakaian tapi telanjang (terlihat lekuk tubuhnya), yang jalannya langgak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk syurga dan tidak pula mencium wanginya, padahal wanginya tersebut dapat tercium dari jarak yang sangat jauh.” (HR. Muslim)

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ

“Dan hendaklah wanita-wanita mu’minah menutupkan kain kerudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya).” (QS. An Nur : 31)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Wahai Nabi! Kabarkanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri kaum mukminin, “Hendaklah mereka memanjangkan jilbab mereka. Yang demikian itu supaya mereka dapat lebih dikenali (sebagai wanita muslimah) dan supaya tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab : 59)

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.

Selasa, 02 Februari 2021

Menjadi Buah Bibir Dan Teladan Bagi Setiap Generasi

 


Hidup adalah tentang bagaimana kita bersikap.

Sedangkan Mati adalah tentang bagaimana kita disikapi.

Jika kita mampu bersikap sahaja, baik, lembut, bijaksana, dan mulia dalam hidup. Maka begitu pula kita akan disikapi ketika setelah mati.

Janganlah menjadi orang yang ketika mati justru orang lain merasa tentram.

Tapi jadilah orang yang ketika mati, maka orang lain merasa kehilangan, seperti kehilangan sesuatu yang berharga.

Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang sholih. Nama atau kisah tentang mereka begitu mewangi semerbak tercuah di permukaan bumi, bahkan di atas langit sana pun, nama mereka menjadi buah bibir para Malaikat Al Abraar.

Diantara mereka ada yang diabadikan di dalam Al Qur’an dan ada pula yang di abadikan di dalam Al Ahadits An Nabawiyah, seperti Ashabul Kahfi di dalam Al Qur’an.

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu berlindung kedalam gua, lalu mereka berdo’a, ‘Ya Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu, dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Al Kahfi : 10)

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Kami ceritakan kepadamu tentang kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (Al Kahfi : 13)

 

Dan banyak lainnya, seperti seorang lelaki sholih dari kaum Nabi Musa alaihissalam dan juga para penyihir Fir’aun yang kemudian mereka bertaubat. Tidak ketinggalan pula kisah tentang para Sahabat; Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Sahabat lainnya radiyallahu ‘anhum ajma’in. Kemudian tentang para Nabi alaihimussalam. Lalu taubatnya seorang pembunuh seratus jiwa. Kisah seorang pelacur yang masuk syurga hanya karena memberi minum seekor anjing yang sedang kehausan, dan Ghulam yang mengorbankan nyawanya demi mengimankan seluruh penduduk suatu negeri. Dan banyak lainnya.

Sungguh sangat mengagumkan! Allah subhanahu wata’ala secara langsung mengabarkan kisah tentang mereka di dalam Al Qur’an Al Karim dan juga Rasulullullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kisah tentang mereka di dalam Al Ahadits An Nabawiyah.

Lantas apakah tujuan dari pengabaran kisah-kisah mereka?! Sungguh tidak lain adalah agar kita sebagai generasi yang datang belakangan mau mengambil contoh atau keteladanan dari mereka, orang-orang sholih, yang mana kesholihan mereka telah mendapat rekomendasi secara langsung dari Allah dan RasulNya.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata, “Umat ini tidak akan pernah menjadi baik, kecuali dengan sesuatu yang pernah menjadikan baik umat terdahulu.”

Maka hendaknya kita flashback melihat bagaimana umat-umat terdahulu mengarungi perjalanan hidup mereka dengan penuh kesholihan dan kesegeraan dalam bertaubat dan berbuat kebaikan.

Hidup mereka dipenuhi warna-warni nan elok. Nama mereka nikmat didengar oleh setiap telinga, dan setiap hati terpaut rindu ingin jumpa. Mereka mati, tapi sejatinya mereka hidup, bahkan sampai saat ini. Sungguh, Allah telah menjadikan setiap makhluk mengenal nama-nama mereka dan mereka menjadi teladan untuk generasi umat.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Al Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf : 111)

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.